Pustakawan adalah seorang yang berkarya secara profesional dibidang perpustakaan dan dokumentasi, yang sadar pentingnya sosialisasi profesi Pustakawan kepada masyarakat luas, dan perlu menyusun etika sebagai pedoman kerja.
Di alam keterbukaan informasi, perlu ada kebebasan intelektual dan memperluas akses informasi bagi kepentingan masyarakat luas. Pustakawan ikut melaksanakan kelancaran arus informasi dan pemikiran yang bertanggung jawab bagi keperluan generasi sekarang dan yang akan datang. Pustakawan berperan aktif melakukan tugas sebagai pembawa perubahan dan meningkatkan kecerdasan masyarakat untuk mengantisipasi perkembangan dan perubahan di masa depan.

Indonesia
Di Indonesia juga terdapat organisasi profesi pustakawan bernama Ikatan
Pustakawan Indonesia/IPI (baca IPEI) yang dibentuk di Ciawi Bogor dalam
11 Kongres Pustakawan se Indonesia pada tanggal 5 – 7 Juli 1973. Namun demikian
sebelum organisasi ini dibentuk, di Indonesia telah berdiri beberapa organisasi
perpustakaan maupun pustakawan, baik jaman Belanda, menjelang kemerdekaan,
atau sebelum terjadinya kongres tersebut :

1. Masa Hindia Belanda
Pada tahun 1912 ada seorang guru pustakawan di HBS Koning Wilhelm II Jakarta (dulu Batavia) bernama Dr. H.J. Van Lammel mempunyai ide tentang betapa pentingnya organisasi untuk para pustakawan. Kemudian pada tahun 1916 terbentuklah organisasi Perhimpunan Untuk Memajukan Ilmu Perpustakaan/ Vereniging tot Bevordering van het Bibliothekwenzen yang bertujuan:
a. Memajukan berdirinya perpustakaan baru dan membentuk perpustakaan rakyat yang telah ada
b. Memajukan usaha sentralisasi perpustakaan;
c. Mengusahakan peminjaman antarperpustakaan di Hindia Belanda/Indonesia
d. Memajukan lalulintas pertukaran dan peminjaman bahan pustaka di dunia internasional;
e. Mengumpulkan dan memajukan sumber referensi dan tugas rujukan
f. Mendirikan biro penerangan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan dokumentasi;
g. Mendirikan gedung untuk perpustakaan umum;
h. Usaha lain untuk tercapainya tujuan tersebut.
Adapun keanggotaannya mula-mula terbatas di Batavia lalu menyebar ke Medan, Surabaya, Tegal, Semarang, Bogor, Bandung, Bondowoso, dan Salatiga.

Saat itu tercatat 62 orang anggota dan terbanyak dari perpustakaan khusus. Sampai dengan tahun 1920 organisasi ini tidak terdengar kegiatannya dan sejak itu pula sampai pendudukan Jepang praktis tidak ada organisasi pustakawan.
2. Masa 1945 – 1973
a. Sejak Indonesia merdeka mulai tumbuh kesadaran untuk mendirikan perpustakaan dan perlunya wadah untuk mengembangkan ilmu perpustakaan dan mengembangkan kerjasama antarperpustakaan.
b. Pada tahun 1949 berdirilah organisasi pustakawan bernama Vereniging van Bibliotheca Resen van Indonesie di Jakarta dengan tujuan untuk mengembangkan ilmu perpustakaan dan kerjasama antarperpustakaan serta penyusunan pedoman kerja. Kegiatan tersebut terhenti pada masa
menjelang tahun 1950.
c. Pada tahun 1953 di Jakarta berdiri Asosiasi Perpustakaan Indonesia/API . Pada waktu itu juga di Yogyakarta dan Bogor berdiri organisasi Perkumpulan Ahli Perpustakaan yang bersifat lokal.
d. Pada tanggal 25 – 27 Maret 1954 di Jakarta berlangsung Konferensi Perpustakaan Seluruh Indonesia atas anjuran Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (saat itu) dan akhirnya melahirkan beberapa keputusan antara lain:
1) Mendorong berdirinya Perkumpulan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia
2) Perlu adanya pendidikan ahli perpustakaan
3) Perlu adanya Dewan Perpustakaan Nasional
4) Mendirikan perpustakaan umum;
5) Perlu adanya kerjasama antarperpustakaan di Indonesia Pada tanggal 27 Maret 1954 di Jakarta berdirilah Perhimpunan Ahli Perpustakaan Seluruh Indonesia/PAPSI dengan tujuan:

a). Mempertinggi pengetahuan dan ilmu perpustakaan;
b). Menanamkan rasa cinta terhadap perpustakaan dan buku kepada umum (Pasal 2 Anggaran Dasar PAPSI).
Dalam perkembangan selanjutnya, organisasi Asosiasi Perpustakaan Indonesia/API bergabung dengan PAPSI. Kemudian pada kongres PAPSI bulan April 1956 diputuskan untuk diperluas dan nama organisasi menjadi Perhimpunan Ahli Perpustakaan Arsip, dan Dokumentasi/PAPADI. Kongres PAPADI pertama berlangsung di Jakarta pada tanggal 19 – 22 Oktober 1957.Kemudian pada pertemuan antar anggota di Jakarta pada tanggal 12 Juli 1962, organisasi ini berubah menjadi Asosiasi Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi/APADI. Karena
keadaan ekonomi dan politik kurang mendukung saat itu, maka kegiatan APADI tidak nampak.
e. Pada tanggal 5 Desember 1969 di Jakarta terbentuk Himpunan Pustakawan Khusus Indonesia/HPCI dengan tujuan:
1). Membina perkembangan perpustakaan khusus di Indonesia
2). Memupuk hubungan antar anggota
(Pasal 2 Anggaran Dasar HPCI).
3. Masa 1973 – sekarang
Pada perkembangan selanjutnya terjadilah suatu pertemuan yang melahirkan Ikatan Pustakawan Indonesia/IPI . Pada tanggal 21 Januari 1973 .
c. Pengertian Pustakawan
Profesi pustakawan pada jaman Mesir kuno telah diakui dan memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan mereka telah berpengetahuan tinggi serta ahli bahasa. Profesi pustakawan Indonesia diakui Pemerintah berdasarkan SK MENPAN No. 18/MENPAN/1988 dan diperbaharui melalui SK MENPAN No. 33/MENPAN/98. Dalam perkembangan selanjutnya keluar Keputusan Presiden RI (saat itu Prof. Dr. B.J. Habibie) No. 87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan fungsional.
Pengertian pustakawan di Indonesia ada beberapa versi antara lain;
1.Versi IPI DIY
Pengertian pustakawan menurut hasil Lokakarya IPI DIY tanggal 5 Juli 1989 adalah seorang yang memiliki keahlian dan ketrampilan di bidang ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun non formal dan memiliki sikap pengembangan diri, mau menerima dan melaksanakan hal-hal baru dengan jalan memberikan pelayanan profesional kepada masyarakat dalam rangka melaksanakan UUD 45 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu pustakawan harus memiliki komitmen untuk:
a. Mengembangkan diri dalam bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi
b. Memanfaatkan hal-hal yang baru untuk pengembangan profesi
c. Bersikap eksperimen dan inovatif
d. Memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan agama, ras, golongan maupun aliran politik
e. Mematuhi kode etik pustakawan (Lokakarya IPI DIY di Univ. Kristen Dutawacana tanggal 5 Juli 1989).
2. Versi SK Kepala Perpustakaan Nasional RI No. 72 Tahun 1999 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Dal;am keputusan ini disebutkan bahwa pustakawan adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan , dokumentasi, dan informasi pemerintah dan atau unit tertentu
lainnya. Pengertian ini memang terbatas pada Pegawai Negeri Sipil karena dibalik surat keputusan itu terdapat konsekuensi material yang menjadi beban dan tanggung jawab Pemerintah. Disamping itu akan mudah jalur pembinaannya karena adanya ikatan struktur. Dalam keputusan itupun disebutkan pula bahwa berdasarkan jenjang pendidikan yang dimiliki, maka pustakawan itu dibagi menjadi dua jenjang yakni Asisten Pustakawan dan Pustakawan. Asisten Pustakawan adalah Pustakawan yang dasar pendidikan untuk pengangkatannya pertama kali serendah-rendahnya Diploma II Perpustakan, dokumentasi dan Informasi atau Diploma II bidang lain yang disetarakan. Adapun Pustakawan adalah Pustakawan yang dasar pendidikan
untuk pengangkatannya pertama kali serendah-rendahnya Sarjana Perpustakaan, Dokumentasi, dan Informasi atau Sarjana bidang lain yang disetarakan. Pembatasan minimal pendidikan yang harus dimiliki oleh seorang profesional merupakan indikator bahwa dalam melaksanakan tugas-tugas kepustakawan harus didasarkan ilmu pengetahuan dengan standar akademis. Hal ini merupakan tuntutan logis agar mereka bertanggung jawab atas tugasnya sesuai ilmu pengetahuan yang dimilikinya melalui pendidikan professional (Diploma) maupun pendidikan akademik (Sarjana). Disamping itu dengan adanya standrisasi pendidikan ini diharapkan mereka itu memahami masalah-masalah kepustakawanan, yakni menguasai ilmu dan profesi di bidang pembinaan, pengembangan dan penyelenggaraan perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Kemudian tentang kemudahan yang tersirat pada surat keputusan tersebut yakni bagi pemegang ijazah Diploma atau Sarjana bidang lain dapat diangkat sebagai pustakawan asal mengikuti pendidikan Pusdokinfi dalam waktu tertentu kiranya perlu ditinjau kembali. Sebab bagaimnapun juga kepemilikan pengetahuan dalam waktu singkat (penataran, magang, dan lainnya) akan berbeda kalau mereka mengikuti pendidikan formal. Mereka yang diangkat sebagai jabatan fungsional pustakawan itu harus mampu melaksanakan pekerjaan kepustakawanan. Pekerjaan inilah yang harus dikerjakan oleh setiap pustakawan dalam kapasitasnya sebagai profesional dan
fungsional dan ini merupakan tugas pokok mereka. Adapun tugas-tugas kepustakawanan itu meliputi:
a. Pengadaan bahan pustaka
b. Pengolahan dan pengelolaan sumber informasi
c. Pendayagunaan dan pemasyarakatan informasi (karya cetak, karya rekam, dan multi media)
d. Pengkajian untuk pengembangan perpustakaan, dokumentasi, dan informasi.
e. Pengembangan profesi
3. Versi Ikatan Pustakawan Indonesia (AD & ART IPI)
Dalam kode etik Pustakawan Bab I disebutkan bahwa pustakawan seorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. Kemudian pengertian tersebut dibahas dalam lokakarya Pengembangan Kurikulum dan Pelatihan Perpustakaan di Indonesia yang diselenggarakan bersama antara PB IPI Perpustakaan Nasional RI dan The British Council di Jakarta tanggal 9-11 Agustus 1994 yang merumuskan perlu adanya Standar Profil Pustakawan Indonesia. Dalam rumusan itu disebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang dalam memiliki pendidikan bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi sekurang-kurangnya tingkat pendidikan profesional dan atau berkualifikasi setingkat yang diakui oleh Ikatan Pustakawan Indonesia dan berkarya dalam bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi sesuai metodologi keilmuan yang diperolehnya.
Pustakawan sebagai profesi perlu memiliki sikap:
a. Komitmen untuk mengembangkan diri dalam bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi;
b. Komitmen untuk menggunakan hal-hal baru untuk menunjang tugas profesi;
c. Komitmen untuk bersikap eksperimen dan inovatif.
d. Komitmen untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan agama, ras, golongan, suku, jabatan, maupun politik
e. Komitmen untuk mematuhi kode etik pustakawan Profesi harus berkembang terus menerus sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan dalam perkembangannya ini sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor sosial, budaya, maupun politik. Perkembangan profesi pustakawan juga
dipengaruhi oleh indikator-indikator sebagai berikut:
a.Tingkat kebutuhan masyarakat
b.Standar keahlian
c.Selektifitas keanggotaan
d.Kemauan untuk berkembang
e.Hubungan profesi dan ilmu pengetahuan
f.Tingkat pendidikan
g.Kode etik
h.Organisasi profesi
i.Pengakuan masyarakat
j.Penghargaan material/finansial atas dasar keuntungan/benefit
Pustakawan yang ideal
Sesuatu yang idealis adalah suatu tahapan yang akan dicapai oleh seorang profesional. Untuk itu dalam lokakarya tersebut juga dirumuskan sosok pustakawan yang ideal ditinjau dari aspek profesional dan aspek kepribadian dan perilaku.
1.Aspek Profesional Pada dasarnya pustakawan Indonesia harus berpendidikan formal ilmu
perpustakaan. Disamping itu juga dituntut untuk:
a. Gemar membaca
b. Trampil
c. Kreatif
d. Cerdas
e. Tanggap
f. Berwawasan luas
g. Berorientasi ke depan
h. Mampu menyerap ilmu lain
i. Obyektif (berorientasi pada data)
j. Generalis di satu sisi, tetapi memerlukan disiplin ilmu tertentu di pihak lain
k. Berwawasan lingkungan
l. Mentaati etika profesi
m. Mempunyai motivasi tinggi
n. Berkarya di bidang kepustakawanan, dan mampu melaksanakan penelitian serta penyuluhan.
2. Aspek Kepribadian dan Perilaku Dari segi ini, pustakawan Indonesia pada prinsipnya harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam arti sesungguhnya. Disamping itu
harus:
a. Bermoral Pancasila
b. Memiliki tanggungjawab sosial dan kesetiakawanan
c. Memiliki etos kerja yang tinggi
d. Mandiri
e. Loylitas tinggi kepada profesi
f. Luwes
g. Komunikatif dan suka melayani
h. Ramah dan simpatik
i. Terbuka terhadap kritik dan saran
j. Siaga dan tanggap terhadap kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
k. Berdisiplin tinggi
l. Menjunjung tinggi etika profesi pustakawan Indonesia
Kiranya setiap profesi memiliki fungsi dan karakteristik bidang masingmasing, misalnya dokter bergerak di bidang kesehatan, hakim berkecimpung dalam bidang keadilan, guru bergerak dalam bidang pendidikan, dan lainnya. Pustakawan melakukan aktivitasnya dalam bidang perbukuan (dalam arti luas) dan perinformasian. Oleh karena itu pustakawan memiliki fungsi strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan informasi Ilmiah. Fungsi dan tugas yang
berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan itu adalah:
a. Menyimpan, mengatur, dan mengawetkan kekyaan intelektual dan artistic manusia dalam berbagai bentuk;
b. Mempermudah pemanfaatan sumber informasi dengan tetap menjaga keselamatan dan keamanan koleksi
c. Mengkomunikasikan informasi yang dimiliki atau yang diketahui kepada masyarakat yang memerlukannya;
d. Berfungsi sebagai elemen masyarakat ilmiah;
e. Membantu pembendukan dan pengembangan masyarakat belajar/learning society. Pembinaan ini dapat dimulai dari pemasyarakatan masyarakat baca/reading society lewat jalur pendidikan formal, keluarga, tempat ibadah, maupun pusat kegiatan.
f. Mencarikan informasi yang diperlukan pemakai ke berbagai perpustakaan, pusat informasi, pusat dokumentasi, maupun ke media internal, dan lainnya.

D. Kode Etik Pustakawan
Sebagaimana diketahui bahwa etika itu merupakan salah satu cabang filsafat yang dibatasi dengan dasar nilai moral yang menyangkut apa yang boleh dan apa yang tidak, maupun apa yang baik dan apa yang tidak. Etika profesi IPI diatur dalam AD & ART IPI yang mencakup kewajiban umum, kewajiban kepada organisasi dan profesi, kewajiban sesama pustakawan , dan kewajiban pada diri sendiri.
Kewajiban umum merupakan suatu sikap dan tindakan yang dilaksanakan pustakawan demi kepentingan dan kemaslahatan umum. Oleh karena itu tiap pustakawan Indonesia:
1. Menyadari sepenuhnya bahwa profesi pustakawan adalah profesi yang terutama mengemban tugas pendidikan dan penelitian
2. Dalam menjalankan profesinya, harus menjaga martabat dan moral serta mengutamakan pengabdian pada negara dan bangsa
3. Menghargai dan mencintai kepribadian dan kebudayaan Indonesia
4. Mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk kepentingan sesama manusia, bangsa, dan agama
5. Menjaga kerahasiaan informasi yang bersifat pribadi yang diperoleh dari masyarakat yang dilayani.
Adapun kewajiban kepada organisasi & profesi:

1. Menjadikan Ikatan Pustakawan Indonesia/IPI sebagai forum kerjasama, tempat konsultasi dan tempat penggemblengan pribadi guna meningkatkan ilmu pengetahuan dan profesi antar sesama pustakawan.
2. Memberikan sumbangan tenaga, pikiran dan dana kepada organisasi untuk kepentingan pengembangan ilmu dan perpustakaan di Indonesia.
3. Menjauhkan diri dari perbuatan dan ucapan serta tingkah laku yang merugikan organisasi dan profesi dengan cara menjunjung tinggi nama baik Ikatan Pustakawan Indonesia.
4. Berusaha mengembangkan organisasi Ikatan Pustakawan Indonesia dengan jalan selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan di bidang perpustakaan dan yang berkaitan dengannya.
Adapun kewajiban sesama pustakawan adalah:
1. Berusaha memelihara hubungan persaudaraan dengan mempererat rasa solidaritas antar pustakawan
2. Saling membantu dalam mengembangkan profesi dan melaksanakan tugas
3. Saling menasehati dengan penuh kebilaksanaan demi kebenaran dan kepentingan pribadi, organisasi masyarakat
4. Saling menghargai pendapat dan sikap masing-masing meskipun berbeda. Adapun kewajiban terhadap diri sendiri adalah:
1. Selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, terutama ilmu perpustakaan, dokumentasi, dan informasi
2. Memelihara akhlak dan kesehatannya untuk dapat hidup dengan tenteram dan bekerja dengan baik
3. Selalu meningkatkan pengetahuan serta keterampilannya, baik dalam pekerjaan maupun dalam pergaulan di masyarakat.